Terkini

Ingin upgrade skill tanpa ribet? Temukan kelas seru dan materi lengkap hanya di YukBelajar.com. Mulai langkah suksesmu hari ini! • Mau lulus? Latih dirimu dengan ribuan soal akurat di tryout.id.

Nasional

Revitalisasi Trotoar, Warisan Anies Baswedan Bagi Pejalan Kaki Jakarta

Revitalisasi Trotoar, Warisan Anies Baswedan Bagi Pejalan Kaki Jakarta
6ce33e761f90e594.jpg (Foto: BeritaOpini/Dokumentasi)
admrozi

admrozi

Kamis, 11 September 2025 | 13:55 WIB

Trotoar selama ini seringkali dipandang sebagai fasilitas pelengkap di sebuah kota. Padahal, di balik perannya yang tampak sederhana, trotoar memiliki arti penting dalam membangun wajah kota yang ramah, aman, dan nyaman. Di Jakarta, isu trotoar selama bertahun-tahun kerap menjadi sorotan. Banyak jalur pedestrian yang sempit, rusak, bahkan dipenuhi pedagang kaki lima atau kendaraan yang parkir sembarangan. Kondisi itu membuat pejalan kaki seperti “tamu” di kotanya sendiri. Namun, dalam periode kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menghadirkan sebuah gebrakan: revitalisasi trotoar besar-besaran yang menjadi salah satu warisan paling terasa bagi pejalan kaki ibu kota.

Langkah yang diambil Anies tidak sekadar soal memperlebar jalur pejalan kaki, melainkan merombak cara pandang terhadap siapa sebenarnya yang paling berhak mendapatkan prioritas di jalanan kota. Jika sebelumnya kendaraan bermotor selalu dominan, maka melalui revitalisasi trotoar, Anies menegaskan bahwa kota yang beradab harus memberi ruang utama bagi manusia.

Revitalisasi trotoar yang dilakukan di Jakarta tampak jelas di berbagai titik strategis, mulai dari kawasan Sudirman–Thamrin, Kemang, Cikini, hingga daerah sekitar stasiun KRL dan halte TransJakarta. Jalur pedestrian yang sebelumnya sempit dan kumuh kini disulap menjadi ruang berjalan kaki yang lebih lapang, teduh, dan berfungsi ganda sebagai ruang interaksi sosial. Tidak sedikit warga yang kemudian menjadikan trotoar sebagai tempat berkumpul, berolahraga ringan, hingga sekadar menikmati suasana kota.

Lebih jauh, program ini juga menekankan pada prinsip keterhubungan dengan moda transportasi publik. Anies memahami bahwa pejalan kaki adalah komponen vital dalam ekosistem transportasi. Seseorang yang naik TransJakarta, MRT, atau KRL, pasti membutuhkan akses trotoar yang nyaman untuk mencapai tujuan. Tanpa trotoar yang memadai, transportasi publik akan sulit diminati. Dengan cara inilah, revitalisasi trotoar di Jakarta berfungsi sebagai penopang integrasi antarmoda dan mendorong budaya berjalan kaki.

Salah satu yang cukup banyak menuai apresiasi adalah konsep trotoar yang ramah terhadap semua kalangan. Misalnya, penyediaan guiding block bagi penyandang disabilitas netra, jalur landai bagi pengguna kursi roda, serta tata kelola ruang agar tidak mudah diserobot oleh kendaraan bermotor. Upaya ini membuat trotoar di Jakarta tak hanya indah secara visual, tetapi juga inklusif.

Meski demikian, tentu ada sejumlah kritik yang mengiringi. Beberapa pihak menilai bahwa revitalisasi trotoar belum sepenuhnya merata, masih terfokus di kawasan pusat kota. Selain itu, ada yang mengkhawatirkan potensi trotoar kembali dikuasai pedagang atau parkir liar jika pengawasan tidak konsisten. Namun, di luar catatan tersebut, publik sulit menampik bahwa perubahan besar memang telah terjadi.

Bagi banyak warga Jakarta, pengalaman berjalan kaki kini terasa berbeda. Jika dulu trotoar identik dengan jalan berlubang, sempit, dan berbahaya, kini semakin banyak titik yang bisa dinikmati dengan aman. Bahkan, tidak sedikit konten kreator media sosial yang menjadikan trotoar baru Jakarta sebagai latar untuk berbagi cerita dan foto. Fenomena ini secara tidak langsung memperlihatkan bahwa kota sedang bergerak menuju wajah yang lebih ramah bagi manusia.

Revitalisasi trotoar ala Anies Baswedan juga memiliki dimensi yang lebih luas, yakni membangun budaya kota sehat. Dengan trotoar yang nyaman, masyarakat terdorong untuk lebih sering berjalan kaki. Aktivitas sederhana ini terbukti bermanfaat bagi kesehatan fisik, mengurangi polusi dari kendaraan pribadi, sekaligus menumbuhkan interaksi sosial. Kota besar seperti Jakarta yang sering kali penuh hiruk pikuk seakan menemukan napas baru melalui jalur pedestrian yang manusiawi.

Selain itu, aspek keberlanjutan juga tidak bisa dipisahkan dari kebijakan ini. Revitalisasi trotoar mendukung misi pengurangan emisi karbon dan transportasi berkelanjutan. Dengan mendorong lebih banyak orang beralih ke transportasi publik dan berjalan kaki, maka penggunaan kendaraan pribadi bisa ditekan. Hal ini selaras dengan target global untuk mengurangi jejak karbon perkotaan.

Jika menengok kota-kota besar dunia seperti Tokyo, Singapura, atau Seoul, kita bisa melihat bahwa wajah modernitas tidak hanya tercermin dari gedung pencakar langit, melainkan dari betapa ramahnya kota terhadap pejalan kaki. Anies Baswedan tampaknya memahami hal tersebut, dan revitalisasi trotoar adalah langkah untuk membawa Jakarta lebih dekat dengan standar kota dunia.

Warisan ini akan selalu dikenang, terutama oleh para pejalan kaki yang merasakan langsung perubahannya. Memang, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilanjutkan: perluasan revitalisasi ke wilayah pinggiran, konsistensi pengawasan, serta perawatan fasilitas agar tetap terjaga. Namun fondasi yang sudah dibangun telah memberi harapan besar bahwa Jakarta bisa benar-benar menjadi kota untuk manusia.

Revitalisasi trotoar bukan hanya proyek infrastruktur, melainkan pernyataan bahwa kota ini peduli pada warganya. Dalam perspektif sejarah kepemimpinan Jakarta, langkah Anies Baswedan ini akan tercatat sebagai salah satu warisan yang memberi dampak nyata bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, pejalan kaki merasa dihargai dan diberi ruang yang layak. Dan mungkin inilah salah satu warisan terbaik yang bisa ditinggalkan seorang pemimpin: mengembalikan kota kepada manusianya.

Baca Juga