Silla University Anugerahkan Gelar Profesor Kehormatan kepada Haikal Hassan
Penulis
Minggu, 21 Juni 2026 | 14:41 WIB
Busan, Korea Selatan — Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan, resmi menerima gelar Profesor Kehormatan atau Profesor Emeritus dari Silla University pada pertengahan Juni 2026. Penganugerahan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan diplomasi halal Indonesia yang kini semakin mendapat perhatian di tingkat internasional.
Gelar kehormatan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi dan pengakuan atas kontribusi nyata Haikal Hasan dalam membangun, memperluas, serta memperkuat ekosistem halal. Peran tersebut tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga dalam diskursus global mengenai standar halal, pendidikan, penelitian, hingga sistem jaminan produk halal yang terus berkembang.
Bagi Indonesia, penghargaan ini tidak sekadar menjadi prestasi pribadi seorang pejabat negara. Lebih dari itu, pengukuhan tersebut mencerminkan semakin kokohnya posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri halal dunia. Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat global terhadap produk yang aman, higienis, terstandarisasi, dan memiliki tingkat kepercayaan tinggi, konsep halal kini berkembang menjadi bagian dari sistem mutu, etika konsumsi, dan gaya hidup modern yang diterima secara luas.
Ahmad Haikal Hasan, yang akrab disapa Babe Haikal, menerima penghormatan akademik tersebut dalam rangkaian kegiatan kerja sama internasional yang melibatkan Silla University dan BIC Halal Korea. Dalam berbagai forum yang digelar, isu halal dibahas bukan hanya sebagai regulasi teknis semata, tetapi juga sebagai ekosistem pengetahuan yang memerlukan dukungan dunia pendidikan, riset lintas negara, serta penguatan sumber daya manusia yang berkelanjutan.
Pengakuan Akademik terhadap Peran Indonesia
Pemberian gelar Profesor Kehormatan dari Silla University menjadi penanda adanya pengakuan dari institusi akademik internasional terhadap kontribusi Indonesia dalam pengembangan jaminan produk halal. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan pasar halal yang terus bertumbuh, Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi referensi dalam tata kelola, sertifikasi, dan pengembangan industri halal global.
BPJPH sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan jaminan produk halal memegang peran penting dalam proses tersebut. Di bawah kepemimpinan Haikal Hassan, penguatan ekosistem halal tidak hanya berfokus pada administrasi sertifikasi, tetapi juga mencakup pembangunan jejaring internasional, kolaborasi kelembagaan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Silla University menilai kontribusi Haikal Hasan dalam memperkuat pemahaman dan implementasi jaminan produk halal sebagai salah satu alasan utama pemberian gelar tersebut. Ia dianggap berperan dalam mendorong konsep halal menjadi lebih luas, mencakup produk makanan, minuman, kosmetik, obat-obatan, jasa, hingga rantai pasok global yang terintegrasi.
Dalam konteks global saat ini, halal tidak lagi dipandang semata-mata sebagai label keagamaan. Halal telah menjadi bagian dari standar kepercayaan konsumen yang menuntut transparansi bahan baku, kejelasan proses produksi, serta jaminan kebersihan dan keamanan produk.
Halal Sebagai Bahasa Universal
Dalam pidatonya saat menerima gelar tersebut, Haikal Hassan kembali menegaskan visi yang selama ini sering ia gaungkan, yaitu “Halal is for all” atau halal untuk semua.
Pesan tersebut menjadi inti dari diplomasi halal yang ingin dibawa Indonesia ke panggung dunia. Menurut pandangan tersebut, halal bukan hanya diperuntukkan bagi umat Islam, melainkan dapat dipahami sebagai standar universal yang menjawab kebutuhan masyarakat terhadap produk yang aman, bersih, berkualitas, dan terpercaya.
Konsep “halal is for all” juga menunjukkan bahwa industri halal memiliki kemampuan menjembatani pasar lintas agama, lintas budaya, dan lintas negara. Saat ini, produk halal semakin diminati oleh konsumen non-Muslim karena dianggap memiliki standar kualitas dan keamanan yang lebih jelas serta dapat dipertanggungjawabkan.
Di sinilah Indonesia memiliki peluang besar untuk memainkan peran strategis. Dengan pengalaman panjang dalam pengelolaan sistem halal, Indonesia dapat menjadi penghubung antara kebutuhan pasar global dan standar jaminan produk halal yang kredibel.
Dari Sertifikasi Menuju Ekosistem yang Lebih Luas
Selama ini, pembahasan mengenai halal sering kali hanya dikaitkan dengan proses sertifikasi. Padahal, ekosistem halal memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibanding sekadar penerbitan label pada kemasan produk.
Ekosistem tersebut meliputi pendidikan, penelitian, audit, pengawasan, laboratorium, logistik, rantai pasok, pemasaran, pelatihan SDM, hingga kerja sama antarnegara. Oleh karena itu, pengembangan industri halal membutuhkan keterlibatan berbagai pihak mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, komunitas, hingga mitra internasional.
Penganugerahan gelar Profesor Kehormatan kepada Haikal Hassan menunjukkan bahwa isu halal kini telah memasuki ruang akademik global. Dengan semakin banyaknya perguruan tinggi yang memberikan perhatian terhadap bidang ini, halal dapat dikaji secara lebih ilmiah, multidisipliner, dan relevan dengan kebutuhan industri masa depan.
Kolaborasi Silla University dan BIC Halal Korea
Salah satu agenda penting dalam kunjungan tersebut adalah penandatanganan kerja sama antara Silla University dan BIC Halal Korea. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat pendidikan, riset bersama, serta pengembangan sistem sertifikasi halal berstandar internasional.
Kerja sama tersebut memiliki nilai strategis bagi kedua negara. Korea Selatan melihat pasar halal sebagai peluang ekonomi yang sangat besar, terutama untuk sektor makanan, kosmetik, farmasi, hingga pariwisata. Sementara bagi Indonesia, kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring diplomasi halal sekaligus memperkuat posisi sebagai negara yang aktif membangun standar halal dunia.
Melalui kolaborasi akademik dan kelembagaan tersebut, kedua pihak dapat mengembangkan berbagai program pelatihan, pertukaran pengetahuan, penelitian terapan, serta pengembangan model sertifikasi yang mampu menjawab kebutuhan industri modern.
Indonesia di Tengah Persaingan Industri Halal Global
Industri halal dunia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kualitas, keamanan, dan nilai etis sebuah produk. Banyak negara, termasuk yang memiliki populasi Muslim minoritas, kini mulai menjadikan halal sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan.
Korea Selatan, Jepang, Thailand, Australia, Brasil, hingga sejumlah negara di Eropa semakin aktif mengembangkan produk dan layanan ramah halal. Kondisi ini menunjukkan bahwa halal telah menjadi bagian dari kompetisi global untuk merebut pasar konsumen yang semakin selektif.
Dalam persaingan tersebut, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar yang besar. Indonesia perlu tampil sebagai pemain utama, pusat pengetahuan, penyusun standar, sekaligus mitra strategis bagi berbagai negara.
Diplomasi Halal sebagai Soft Power Indonesia
Penganugerahan gelar Profesor Kehormatan kepada Haikal Hassan juga dapat dimaknai sebagai bagian dari keberhasilan diplomasi halal Indonesia. Dalam hubungan internasional modern, kekuatan sebuah negara tidak hanya dibangun melalui budaya atau ekonomi, tetapi juga melalui nilai, standar, dan sistem yang dipercaya oleh dunia.
Halal berpotensi menjadi salah satu instrumen soft power Indonesia. Melalui pengembangan standar halal yang kredibel, Indonesia dapat memperkuat kerja sama internasional, memperluas akses ekspor, meningkatkan kolaborasi riset, serta memperkenalkan tata kelola produk yang berbasis pada kepercayaan dan kepastian proses.
Jika dikelola secara optimal, diplomasi halal dapat memberikan dampak ekonomi yang luas. Produk Indonesia akan semakin mudah diterima pasar internasional, pelaku UMKM dapat meningkatkan daya saing, dan berbagai sektor industri seperti makanan, kosmetik, farmasi, fesyen, logistik, hingga pariwisata dapat berkembang lebih cepat.
Momentum Baru bagi Industri Halal Nasional
Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University kepada Ahmad Haikal Hassan menjadi simbol pengakuan internasional terhadap kontribusi Indonesia dalam pengembangan sektor halal. Momentum ini dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas kerjasama global, memperkuat pendidikan halal, serta meningkatkan kepercayaan dunia terhadap sistem jaminan produk halal Indonesia.
Lebih dari sekadar penghargaan akademik, peristiwa ini membawa pesan bahwa halal telah menjadi isu strategis yang menyentuh berbagai bidang, mulai dari ekonomi, pendidikan, teknologi, diplomasi, hingga perubahan perilaku konsumen global.
Ketika Haikal Hassan kembali menegaskan bahwa “halal is for all”, pesan tersebut menggambarkan arah baru industri halal yang semakin inklusif, universal, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Dari Busan, Korea Selatan, Indonesia kembali menunjukkan bahwa halal bukan hanya identitas keagamaan, tetapi juga standar kualitas, jembatan kerja sama internasional, dan peluang besar bagi masa depan ekonomi dunia.
Pengakuan dari Silla University menjadi bukti bahwa dunia semakin memperhatikan peran Indonesia dalam ekosistem halal global. Tantangan selanjutnya adalah memastikan pengakuan tersebut diterjemahkan menjadi langkah nyata melalui penguatan sistem halal nasional, peningkatan kualitas SDM, serta perluasan kolaborasi internasional yang berkelanjutan.
